3 Alasan Brigadir J Tak Bisa Jadi Tersangka Pelecehan Istri Irjen Ferdy Sambo

- Senin, 8 Agustus 2022 | 13:59 WIB
Putri Candrawathi (kiri) Brigadir J (kanan) (sl/Ist/Kolase/Pikiranrakyat)
Putri Candrawathi (kiri) Brigadir J (kanan) (sl/Ist/Kolase/Pikiranrakyat)

Kemudian, harus disertai dengan pemeriksaan calon tersangkanya. Pertimbangan hukum MK adalah untuk perlindungan hak asasi seseorang agar dapat memberikan keterangan sebelum ditetapkan sebagai tersangka. 

"Sehingga secara hukum, tidak mungkin juga ia ditetapkan sebagai tersangka, karena tidak mungkin memeriksa orang tersebut sebagai calon tersangka karena sudah meninggal lebih dulu," kata Boris.

 Baca Juga: Pengacara: Bharada E Akan Membuka Tabir Gelap yang Selama ini Menjadi Tertutup

Ketiga yaitu Pasal 77 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pun tidak relevan digunakan dalam kasus ini. Sebab Pasal 77 KUHP berlaku untuk terlapor yang meninggal dalam proses hukum, bukan yang meninggal lebih dulu.

Pasal 77 KUHP ini menyatakan "kewenangan menuntut pidana hapus, jika tertuduh meninggal dunia”. Pasal 77 ini bisa digunakan bila orang yang dilaporkan masih hidup, tapi dalam proses hukum kemudian meninggal. 

Kasus Brigadir J ini berbeda karena sudah meninggal lebih dahulu bahkan sebelum dilaporkan. Sehingga pasal 77 KUHP ini tidak relevan digunakan sebagai dasar. 

 Baca Juga: Pengacara: Bharada E Akan Membuka Tabir Gelap yang Selama ini Menjadi Tertutup

Sementara itu, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik telah mengatakan keterangan Putri Candrawathi sangat krusial untuk menjawab apakah ada baku tembak dan pelecehan seksual dalam kasus Brigadir J. Namun Komnas HAM saat ini belum bisa mendapat keterangan dari Putri karena masih menunggu proses asesmen psikologis dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban atau LPSK.

Keterangan Putri Candrawathi, kata Ahmad Taufan, menjadi penting karena Komnas HAM tidak bisa mendapat bukti CCTV di dalam rumah Irjen Sambo. Menurut pengakuan ajudan Ferdy Sambo, Bripda Ricky dan Bharada E, CCTV di rumah dinas itu rusak dan tidak berfungsi.

Sementara ia menyebutkan Bripda Ricky dan Bharada E mengaku tidak menyaksikan langsung saat terjadinya pelecehan seksual terhadap Putri. Mereka, hanya mendengar teriakan Putri, tetapi tidak tahu kenapa teriakan muncul. Menurur keterangan para saksi.

Halaman:

Editor: kwon oca

Sumber: Tempo.co

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ciayumajakuning Masih Butuh 10000 SS

Senin, 23 Januari 2023 | 14:03 WIB

DPRD dan Pemkab Muaratara Tak Berkutik

Rabu, 7 Desember 2022 | 09:40 WIB
X