• Jumat, 30 September 2022

Melalui Pipansi di Ibu Kota PAM Jaya Genjot Kebutuhan Air

- Rabu, 10 Agustus 2022 | 13:22 WIB
Direktur Utama Perumda PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan : "Pengambilan penggunaan dari air tanah ini masih sangat besar di Provinsi DKI Jakarta dan membuat banyak efek ekologi menjadi salah satu hal mengancam," (www.pamjaya.co.id)
Direktur Utama Perumda PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan : "Pengambilan penggunaan dari air tanah ini masih sangat besar di Provinsi DKI Jakarta dan membuat banyak efek ekologi menjadi salah satu hal mengancam," (www.pamjaya.co.id)

Giwangkara.com, - Eksploitasi Air Tanah di wilayah Jakarta dapat berdampak buruk,

Diprediksi hal ini dapat menenggelamkan Jakarta, jika hal ini terus dilakukan. Untuk menekan eksploitasi air tanah yang masih terjadi di Jakarta. Perusahaan Umum Daeran (Perumda) PAM Jaya tengah menggenjot pemenuhan kebutuhan air melalui pipanisasi di Ibu Kota.

Ekologi di Jakarta semakin terancam karena eksploitasi air tanah di daerah Ibu Kota ini terus menerus digunakan.
Dikutip dari Antara, Direktur Utama Perumda PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan : "Pengambilan penggunaan dari air tanah ini masih sangat besar di Provinsi DKI Jakarta dan membuat banyak efek ekologi menjadi salah satu hal mengancam,"

Baca Juga : Benarkah Air Pam Di Wilayah Jakarta Bisa Langsung Di Minum?

Solusi Terbaik untuk menangani kasus ini Arif membeberkan agar menghimbau warga untuk menggunakan pipansi atau melakukan pelarangan bagi siapa saja yang menggunakan air tanah.
"Prediksinya di tahun 2050, diprediksikan 90 persen dari wilayah Jakarta, terutama di bagian utara itu akan bisa tenggelam," ujar Arief.

PAM Jaya menargetkan 100 persen warga Jakarta dapat terlayani air pipa pada 2030, seperti yang sudah selama ini telah ditargetkan oleh PAM Jaya. Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Provinsi DKI Jakarta merupakan upaya untuk mencapai target layanan hingga 100 persen warga Ibu Kota pada 2030.
Penyediaan akses air minum perpipaan dapat menekan eksploitasi air tanah yang berdampak pada kerusakan lingkungan, gangguan kesehatan, hingga potensi bencana lingkungan.

Editor: Dede Zulfia Nurhayati

Sumber: kompas.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Raker KPU dan PWI Kota Bandung

Jumat, 30 September 2022 | 01:16 WIB

Optimalkan BIAN, Puskesmas Neglasari Vaksin Door to Door

Kamis, 29 September 2022 | 17:42 WIB

Edwin Senjaya Minta Kios Penjual Miras Ditutup

Rabu, 28 September 2022 | 02:37 WIB

Achmad Nugraha: Saya Ingin Mafia Tanah Diberantas

Rabu, 28 September 2022 | 02:37 WIB
X